0 di keranjang

Keranjang kosong

Segera dapatkan buku-buku terbaru dari Agung Webe

TUHAN APAKAH AKU MENCINTAIMU

Rp95.000

Buku yang berisi perjalanan melihat agama dari sisi-sisi yang berbeda

6 di stok

-
+

Bila anda membuka halaman ini memakai HP maka anda dapat juga memesan melalui wa atau sms di bawah ini:

Beli via WhatsApp Beli via SMS

Cara Membeli

Silahkan menghubungi kami via SMS di 08176481580 pada perangkat handphone Anda.

×

Deskripsi

13x18cm

236 halaman

Berawal dari tulisan tulisan yang bapak Agung Webe di bulan Ramadhan dengan hastag #tuhanapakahakumencitaimu, saya mengikuti tulisan tersebut selama bulan Ramadhan. Berbeda dengan tema tema tulisan yang dibahas di bulan Ramadhan pada umumnya, tulisan ini memberikan sudut pandang yang berbeda. Melihat sudut pandang lain mengenai hal-hal yang sering di bahas selama ini, namun juga menyuguhkan kesegaran yang membuat kita merenungkan khasanah pemahaman yang lain.

Bulan Ramadhan identik dengan bulan puasa, dan selama sebulan penuh kita menahan diri dari segala yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar (shubuh) hingga terbenamnya matahari (maghrib). Bila sekedar menggugurkan kewajiban berpuasa, mudahnya cukup sekedar menahan makan dari shubuh hingga maghrib. Tapi sebagai muslim sejati tidak cukup sampai situ saja, ditingkatkan lagi dengan menahan diri dari segala hawa nafsu dan bersemangat dalam berlomba lomba dalam ibadah. Bahkan untuk puasa, kita tidak berhenti pada bulan Ramadhan saja, tapi juga berlanjut pada bulan bulan selanjutnya. Karena tujuan akhir dari puasa adalah menjadi insan yang bertakwa, bertakwa sepanjang hayat di kandung badan.

Begitupun buku yang Anda pegang saat ini tidak hanya asyik dibaca ketika bulan Ramadhan, sebab hikmah dan nilai nilai yang ada di sini bisa dibawa kapan saja, di hayati dan di amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Blind Spot Melalui pendekatan cara pandang lain melihat tema tema agama yang umum merupakan cara untuk menunjukkan blind spot (titik buta) yang mana titik itu tidak dapat di lihat dengan jernih, perlu bantuan sharing dari mentor yang bisa memberikan suguhan pandangan lain, yang mungkin saja lebih mencerahkan dan menyegarkan.

Buku ini menjadi alat bantu untuk menunjukkan blind spot anda, ketika pandangan umum masih sekedar membahas kulit luarnya saja, di sini membahas dan membedahnya sampai daging dagingnya, sampai hakikat yang belum anda pahami sebelumnya. Membuka hijab di pikiran Anda, sehingga mengetahui bahwa Islam sebagai agama rahmat bagi semesta alam, menyuguhkan bukan hanya untuk agama islam, tapi juga untuk semua makhluk yang ada di alam semesta ini.

Dan juga melepaskan diri Anda dari kejumudan pemikiran. Anda akan di ajak jalan-jalan, di bawa ke sana ke mari, lebih ekstrime lagi seperti naik role coaster, naik turun, naiknya bikin deg degan dan turun nya bikin perasaan campur aduk. Mungkin awalnya

Anda menjadi bingung dan ‘hang’ sejenak, mana yang benar dan mana yang salah; keyakinan saya atau tulisan yang ada di sini yang salah? Tapi lama-lama Anda mulai belajar dan menyelami kembali, bahwa pendapat ini bisa jadi referensi tersendiri sebagai cara untuk melihat agama dari sisi yang berbeda.

Pengkultusan dan Fanatisme saya alami saat saya belajar agama dulu. Memulainya dengan pengkultusan terhadap Ustadz yang saya sukai gaya dakwahnya dan setelah itu saya pun menjadi fanatik terhadap apa-apa yang di katakan oleh Ustadz tersebut. Pokoknya hanya ajaran ini yang benar, yang lainnya salah.

Namun setelah saya merenungkan kembali isi buku ini, ketika Bapak Agung Webe menjelaskan pada bab Simbol dan Kitab Suci di awal pembahasannya, beliau menuliskan,

“Mengatakan hati penuh cinta dan mengasih sesama itu mudah. Mengutip dalil yang terlihat sangat spiritual dan terlihat beragama juga sangat mudah. Memakai pakaian sehingga terlihat taat beragama juga mudah. Bahkan siapapun dapat berdebat dengan orang lain hanya karena dalil-dalil mutlak yang ia yakini benar walaupun intinya adalah ia tidak sependapat dengan apa yang orang lain ungkapkan. Ramadhan merupakan bulan yang sangat tepat untuk melihat kembali kondisi diri, “apakah aku sudah mengimplementasikan semua sifat cinta kasih ini, atau baru sebatas omonganku saja?”

Memang mudah jika parameter beragama agar terlihat sebagai orang yang beragama seperti yang di jelaskan di atas dan itu semua bukan esensi dalam beragama. Sekedar bicara di mulut semua orang juga bisa, tapi belum tentu bisa untuk menghargai perbedaan, tidak memaksaakan keyakinan orang lain, tidak harus ‘ngotot’ agar orang lain bisa sependapat.

Pengkultusan dan fanatisme menjadikan seseorang tidak bisa dibantah dan merasa paling benar sendiri. Pikiran dan perasaaannya sudah diberi frame dan dicuci otaknya hanya untuk menerima yang sesuai dengannya dan tidak dapat menerima pendapat yang lain.

Pertanyaan Reflektif Tuhan, Apakah Aku Mencintaimu? Adalah sebuah pertanyaan yang menghujam ke hati sanubari kita agar kita mempertanyakan kembali, selama ini apakah aku sudah sungguh-sungguh mencintai Tuhan? Jangan-jangan baru sebatas omongan dan masih dalam bentuk kepura-puraan.

Pertanyaan reflektif ini seharusnya dapat membuat kita menata ulang kembali jejak-jejak cinta yang seringkali manis diucapkan kepada Tuhan, namun sepi dari pembuktian nyata dalam amal perbuatan yang akhirnya membuat kita malu kepada Tuhan. Lalu setelah itu kita kemudian bersungguh-sungguh dalam membuktikan cinta kita dalam berkhidmat kepada Tuhan dan sesama manusia.

Informasi tambahan

Berat 500 g