0 di keranjang

Keranjang kosong

Segera dapatkan buku-buku terbaru dari Agung Webe

NEXT GENERATION

Rp90.000

Buku spiritual Soul Journey seri kedua

5 di stok

-
+

Bila anda membuka halaman ini memakai HP maka anda dapat juga memesan melalui wa atau sms di bawah ini:

Beli via WhatsApp Beli via SMS

Cara Membeli

Silahkan menghubungi kami via SMS di 08176481580 pada perangkat handphone Anda.

×

Deskripsi

13X18CM

224 Halaman

Selamat bertemu kembali di Soul Journey.

Bila anda membaca buku ini, saya sarankan anda juga membaca Soul Journey buku pertama agar anda dapat mengikuti tema dan topik yang dibahas di dalam buku ini.

Buku ini saya beri nama Next Generation – Generasi Selanjutnya. Mengapa Generasi Selanjutnya?

Kita semua sedang berevolusi dan tidak ada yang dapat menyeragamkan evolusi tersebut. Ada yang cepat, ada yang lambat, bahkan ada yang memilih berhenti dulu. Setiap perjalanan dari masing-masing kita adalah unik. Tidak ada yang salah dengan yang cepat, lambat atau bahkan berhenti.

Perjalanan Soul Journey memang merupakan rumah singgah. Untuk itulah, bagi mereka yang mampir, saya selalu mengucapkan terimakasih banyak telah menjadi bagian dari perjalanan yang ada.

Meminjam dari cerita Buddha,

Sang Buddha mendirikan ‘Sangha’ – rumah singgah bagi orang-orang yang lalu Lalang mencari kesejatian. Banyak orang yang keluar masuk mampir di sangha tersebut. Bagi Buddha dan sahabat-sahabatnya, mereka hanya melayani. Mereka bukan orang yang lebih baik, lebih cerah, lebih mulia. Mereka hanya melayani para pejalan, itu saja.

Namanya para pejalan, tentu maunya banyak. Maunya macam-macam dan sangat kompleks. Ada yang mampir ingin kaya, dan ternyata Buddha tidak punya ilmu tersebut lalu pergi. Ada yang mampir ingin jadi penyembuh, dan ternyata Buddha tidak punya ilmu tersebut lalu pergi. Ada yang mampir ingin pandai, dan ternyata Buddha tidak punya ilmu tersebut lalu pergi. Bahkan ada yang mampir ingin menjadi guru yang punya murid banyak, dan Buddha tidak punya ilmu tersebut lalu pergi.

Ketika Buddha hanya berjalan dan mengajak ‘berbuat baik’, maka para pencari yang mampir tersebut mengatakan bahwa Buddha tidak punya tujuan dan mereka memilih bersandar kepada sesuatu yang jelas tujuannya.

Buddha, tentu saja tidak perduli dengan itu semua. Kehadiranmu tidak menambah apapun dan kepergianmu tidak mengurangi apapun.

Sahabat-sahabat Buddha yang  berjalan Bersama dapat dihitung dengan jari. Ada Sariputra, Monggalana, Kasyapa, Anurudha, Kondana, Upali, Rahula, Sivali, Bakulla dan Ananda.

Mereka memahami bahwa tujuan itu disini, saat ini, sekarang. Sehingga yang mereka lakukan hanyalah merayakan kehidupan yang ada.

Kalimat ‘Generasi Selanjutnya’, istilah itu saya pakai Karena evolusi yang terjadi memang menyebabkan perubahan dalam hal apapun juga. Mereka yang mampir kemudian melanjutkan perjalanannya, mereka yang mencari ‘sesuatu’ melanjutkan  pencariannya tersebut. Dan mereka yang masih mengumpulkan ‘sesuatu’ akan meneruskan usaha pengumpulannya itu.

Generasi selanjutnya bukan generasi yang pasti lebih baik, pasti lebih maju, pasti lebih hebat. Bukan itu. Generasi ini adalah generasi yang tidak lagi melihat ‘apa yang akan diraih’, namun melihat ‘apalagi yang bisa diberikan’.

Perayaan kehidupan terjadi dalam memberi, bukan dalam mengumpulkan materi.

Banyak orang dapat berkumpul dengan niat dasar uang. Mereka rela meluangkan waktu demi uang, menghabiskan tenaga demi uang.

Namun, sedikit yang dapat berkumpul untuk mengeluarkan uang.  Yang meluangkan waktu tanpa janji uang dan menghabiskan tenaga bukan untuk uang.

Pandangan ini tentu saja tidak masuk akal bagi orang-orang materialistik yang tidak percaya bahwa sebuah pergerakan ada yang tidak didasari Karena uang. Mungkin ukuran mereka adalah ‘sebatas perut kenyang’ sehingga uang menjadi nilai ukur satu-satunya.

“Bagaimana kita dapat berpikir spiritual kalau perut kita masih lapar” – Jargon inilah yang selalu dipakai untuk mengembalikan lagi cita-cita purba tentang uang.  Mereka lupa, bahwa spiritual tidak untuk dipikirkan, bahkan tidak untuk dirasakan. Atau terlebih lagi, tidak untuk dilogikakan.

Susah, senang. Sedih, bahagia. Gagal sukses. Miskin, kaya adalah bagian yang sama dari kehidupan.

Informasi tambahan

Berat 500 g